Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha-Industri
By admin On 15 Feb, 2016 At 07:01 AM | Categorized As ENTREPRENEURSHIP | With 0 Comments

prof asep wkl forum rektorPendahuluan

Salah satu materi yang dibahas dalam Konferensi FRI (Forum Rektor Indonesia) di UNY adalah tentang hilirisasi riset di Perguruan Tinggi. Materi ini dianggap sangat penting mengingat saat ini Indonesia paceklik penerapan hasil riset untuk dunia usaha dan industri (DUI).

Persoalan kesenjangan yang menimpa PT memang bukan hanya ada di Indonesia. Tetapi juga di negara-negara lainnya, terutama di negara berkembang. Bank Dunia (2012) menemukan bahwa kesenjangan antara PT dan DUI di Asia Timur (termasuk ASEAN) ini adalah salah satu dari lima kesenjangan lainnya. Kelima kesenjangan itu adalah 1). Kesenjangan antara PT dan pengguna lulusan, 2). Kesenjangan antara PT dan pengguna hasil riset (industri), 3. Kesenjangan antara PT dan lembaga riset (seperti Litbang Kementerian, LIPI), 4. Kesenjangan antara PT itu sendiri (seperti antara universitas dan politeknik), dan 5. Kesenjangan antara PT dan pendidikan sebelumnya (SMA, SMK).

Walaupun riset tersebut dilakukan di berbagai negara Asia Timur, saya pikir para praktisi merasakan kesenjangan itu terjadi di Indonesia. Misalnya dalam hal dunia kerja dan prodi (program studi) sering ditemukan ketidaknyambungan antara bidang dan jenis pekerjaan. Akhirnya sering ditemukan perusahaan mengadakan rekrutmen staf melalui pola MT (management training) dengan peserta dari berbagai bidang.

Hal ini adalah sebuah kemubaziran waktu dan keahlian. Pola Kerjasama DUI dan Teaching University
Pada umumnya PT di Indonesia belum masuk ke dalam kategori research university, tetapi masih berbentuk teaching university. Akan tetapi hal ini tidak berarti harus terlepas dari kebutuhan industri.

Pada saat teknologi informasi belum secanggih saat ini, pengajaran yang berbasis buku teks dimana dosen sebagai sumber belajar utama itu cukup baik dan berhasil. Akan tetapi dewasa ini dimana teknologi informasi sangat canggih dan perkembangan DUI begitu cepat, maka pola lama yang terlalu mengandalkan buku teks dan dosen akan membuat mahasiswa ketinggalan zaman. Untuk itu PT harus menggandeng DUI agar selalu terkinikan (updated) oleh perkembangan zaman.

Bagi PT yang masih teaching university dapat menggandeng DUI sebagai tenaga pengajar untuk mata ajaran tertentu. Selain itu, mahasiswa harus sering dibawa jalan-jalan melihat DUI. Bahkan sebaiknya mereka melihat DUI di luar negeri, supaya mereka tahu peralatan industri dan metode-metode terbaru yang dipakai DUI.

Begitu juga para dosen, supaya mereka terkinikan (updated) dengan metode dan peralatan baru, ada baiknya mempelajari situasi terbaru dari DUI. Bisa membuat mini riset, bisa juga ikut magang beberapa hari di DUI sesuai dengan bidangnya. Dari situ mereka bisa memperbaiki buku ajar atau panduan-panduan praktikum. Dalam hal ini pemerintah dapat membantu dosen-dosen magang di DUI melalui pendanaan khusus.

Pola ini setidaknya akan memperkecil kesenjangan antara DUI dan PT. Dengan demikian para lulusan selalu terpapar (exposed) dengan konsep baru, pendekatan baru, dan teknologi baru. Pola ini dapat membantu mahasiswa selalu kuat dalam KKN (kompetensi, komitmen, dan networking). Tanpa kekuatan KKN ini, para lulusan akan terjebak padq pencaharian pekerjaan apa saja yang penting kerja. Bisa saja mereka harus mengantri hanya untuk menjadi supir taksi. Lalu mereka harus mengantar para profesional yang datangnya dari berbagai nagara.

Tragis.

Selain pola pengajaran, para dosen harus selalu mengajak mahasiswa melakukan riset kecil, berupa pengamatan dan penulisan. Kebiasaan menulis laporan para mahasiswa kita kalah jauh dari mahasiswa asing. Kebiasaan ini harus mulai ditanamkan sejak dini, yakni semester pertama di PT. Kalau bisa bahkan ditulis dalam bahasa Inggris.

Hilirisasi Riset

Harus kita akui bahwa ada beberapa PT yang sudah mempunyai kekuatan riset. Kampus-kampus (umumnya PTN) ini sudah mulai masuk ke dalam kategori universitas riset. Akan tetapi masih dirasakan kelemahannya yakni banyak hasil riset para dosen yang tidak diterapkan di DUI. Ini juga kesenjangan yang kita rasakan bersama.

Sehingga jarang sekali ada teknologi baru di DUI yang genuin Indonesia. Akhirnya dunia industri di Indonesia melakukan pola teknologi franchising dari luar.Untuk menanggulangi kesenjangan tipe ini, peserta konferensi FRI menyarakan agar PT melakukan beberapa hal sebagai berikut, 1). Inventarisasi hasil riset yang dilakukan para dosen, 2) Kelompokkan hasil riset tersebut sesuaikan dengan DUI, misalnya agroindustri, industri kreatif, energi, dll. 3) Adakan pertemuan-
pertemuan reguler dengan DUI, 4) Lakukan pameran hasil riset dengan mengundang industri, 5) Siapkan draft kerjasama dengan DUI untuk membuat perusahaan pemula (startup company) berbasis hasil riset PT, 6) Buat tempat sejenis science park, research park atau industrial park yang melibatkan pihak industri.

Pada ujungnya PT besar harus memiliki perusahaan yang berbasis pengetahuan. Keuntungan dari perusahaan itu harus dikembalikan ke para peneliti (dosen) berupa royalti, beasiswa mahasiswa, pendidikan lanjut, kegiatan Riset, penerbitan jurnal, selain tentunya untuk kaizen (perbaikan terus menerus) perusahaan itu. Riset

betul-betul menjadi kegiatan inti PT untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Dosen menjadi bergairah menemukan teknologi baru atau bahkan teori baru. Pola ini, tidak mustahil akan menghasilka banyak dosen Indonesia yang dikenal oleh ilmuwan mancanegara. Dus, riset bukan sekedar tuntutan untuk kenaikan pangkat dosen. Dengan demikian, PT itu akan direken sebagai PT kelas dunia. Semoga.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>