Universitas Pertamina
By admin On 20 Feb, 2016 At 11:29 PM | Categorized As ENTREPRENEURSHIP | With 0 Comments

prof asef2Pada tanggal 12 Februari 2016 Pertamina Foundation mendirikan Universitas Pertamina (UP). Basis prodinya adalah keteknikan, termasuk teknik lingkungan. Dirut Pertamina menegaskan bahwa universitas ini sebagai wujud komitmen mengembangkan iptek demi kemajuan bangsa di kancah global.

Saya membaca berita tersebut merasa senang sekaligus juga heran. Senang karena Pertamina peduli terhadap iptek dan SDM. Dari segi finansial, tentu Pertamina mempunyai dana yang relatif kuat. Kekuatan finansial ini akan menjamin syarat minimum pengelolaan universitas yang tidak akan terlalu bergantung kepada dana dari mahasiswa.

Adapun keheranan saya setidaknya ada dua. Pertama, tidak terbaca bahwa Pertamina sedang menyiapkan UP sebagai universitas riset. Kedua, mengapa UP dibuka di Jakarta, bukan di luar Jawa. Inilah alasannya.

Sebaiknya UP Universitas Riset.

Menilik kekuatan aset Pertamina, termasuk finansial, UP sangat berpeluang menjadi universitas berbasis riset. Karena universitas model inilah yang sangat diperlukan untuk membangun K-economy. Bila UP bukan universitas riset, maka tidak akan ada bedanya dengan PTS lainnya yang masih bertipe universitas pengajaran (teaching university). Pola konvensional ini niscaya akan sulit menggerakkan riset dasar dan terapan yang berkaitan dengan sumber daya alam dan lingkungan. Artinya UP yang didedikasikan untuk kemajuan IPTEK itu akan sulit terwujud. Dan pada ujungnya Indonesia akan tetap tergantung kepada negara lain, walaupun kita sangat kaya SDA.

Walaupun PT di Indonesia mempunyai tiga fungsi (tridharma), pada kenyataannya komponen riset jarang dijalankan secara benar. Secara ekosistem universitas pengajaran kurang mendukung kultur riset. Dosen hanya merasa berkewajiban mengajar, di luar itu dianggap sebagai penunjang, atau sekedar persyaratan. Kehadiran dosen sangat ramai pada saat ada perkuliahan. Pada saat libur semester, kampus-kampus umumnya sepi. Jarang sekali dosen sibuk meneliti. Itulah tipe universitas pengajaran. Hal ini umum terjadi di Indonesia, PTN skalipun.

Dewasa ini, pengajaran tanpa kekuatan riset hanya akan memamahbiak buku teks. Dan tidak jarang buku pegangan itupun relatif lama, karena beberapa alasan. Bisa karena persoalan keuangan, bisa karena faktor kemalasan, bisa juga karena dosen kurang informasi, atau ketiga-tiganya. Sehingga buku teks terbaru bukan menjadi kebutuhan. Pada ujungnya, kondisi ini membahayakan mahasiswa dalam mengejar ketertinggalan inovasi IPTEK.

Di universitas riset, pengajaran tetap penting, tetapi basis informasinya adalah buku teks (baru) dan jurnal. Dari jurnal itulah mahasiswa mendapatkan informasi keilmuan terkini. Adapun buku teks tetap diperlukan untuk memperkuat landasan teorinya. Selain itu, pengujian-pengujian hipotesis, penulusuran masalah, dan pencarian solusi itu semua memaksa dosen untuk melakukan riset.

Lalu hasilnya dituangkan dalam paper berbasis riset (research paper). Artinya, riset dan penulisan paper adalah tuntutan perkembangan persoalan, bukan sekedar untuk kenaikan golongan. Kultur ini tidak ada di universitas pengajaran, karena bukan merupakan tuntutan. Sangat disayangkan UP bukan universitas riset. UP akan terjebak pada kegiatan akademik secara business as usual, tidak akan terjadi terobosan dalam pengembangan IPTEK.

Mengapa UP Tidak di Luar Jawa?

Jumlah universitas di Indonesia termasuk sangat banyak, yakni sekitar 4000. Selain itu, sebarannya tidak terlalu bagus, yakni konsentrasinya terletak di Pulau Jawa. Tidak dapat disangkal bahwa PT menjadi faktor percepatan arus urbanisasi yang semakin parah. Universitas yang baik juga menjadi “gula” pengundang semut.

Mobiltas penduduk melalui universitas relatif mudah terjadi dan untuk negara menjadi murah. Karena tidak banyak anggaran negara dituangkan ke situ dibandingkan dengan program transmigrasi. Orang cenderung mengejar pendidikan yang bagus dengan berbagai cara. Banyak orang tua harus menjual kebun, ternak, atau sawah hanya untuk mengirim anaknya sekolah. Mereka tahu bahwa pendidikan bisa merubah nasib.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan itu seharusnya dimanfaatkan oleh pemerintah dengan membangun universitas di luar Jawa. Begitu juga Pertamina Foundation sebaiknya membuat UP di Kalimantan, Sulawesi atau Papua. Dengan kekuatan finansial yang tinggi, tentu UP dapat menjadi universitas bermutu. Dijamin, para generasi muda akan mengejar kampus itu. Orang tua tentu akan mendorong putra putrinya menjadi mahasiswa UP, walaupun harus menyeberang pulau. Bila UP ada di Jakarta, jangan salahkan bila Jakarta semakin padat.

Kembali ke soal kepedulian Pertamina terhadap masa depan SDM dan IPTEK, akan lebih kongkrit bila UP di luar Jawa. UP akan “tenang” menangani universitas riset dengan calon-calon peneliti yang disiapkan secara matang. Para calon itu berdatangan dari berbagai daerah yang siap memproduksi ilmu pengetahuan dan menjadi solusi persoalan lingkungan. Inilah wujud kepedulian Pertamina terhadap bangsa dalam memajukan IPTEK di kancah global.

UP harus berpikir membentuk pusat riset yang berkelas, bukan sekedar membeberkan prodi-prodi yang akan dibuka. Bila demikian UP akan terjebak pada business as usual universitas pengajaran. Rektor akan sibuk mengarahkan para dosen untuk mengajar, mengisi borang akreditasi, dan mengingatkan jangan lupa mengisi daftar hadir. Itulah universitas di Indonesia. Keadaan ini tidak akan membangkitkan budaya riset. Lalu kita terbengong-bengong melihat kampus-kampus Singapur dan Malaysia masuk papan atas World Class University. Di sinilah sering saya merasa sedih!.(Penulis : Asep Saefuddin Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>