Kembalikan Makna Pendidikan
By admin On 25 Feb, 2016 At 10:22 AM | Categorized As ENTREPRENEURSHIP | With 0 Comments

prof Asef SaefudinSaat ini Indonesia sedang dirundung duka. Berita penangkapan Ketua MK dan beberapa politisi baru-baru ini pertanda hukum di negeri ini sedang porakporanda. Kabar pelajar menyiramkan air raksa juga sungguh sangat menyedihkan. Belum lagi informasi seorang ayah menjual anaknya serta banyak lagi berita lainnya yang sangat menyesakkan dada. Pendek kata, saat ini negara kita dalam keadaan sakit.

Memang persoalan ini sangat kompleks yang saling kait mengait. Untuk saat ini saya akan menyorotinya dari perspektif pendidikan. Saya pikir tidak ada yang menyangkal bahwa pendidikan adalah landasan yang sangat vital untuk proses kehidupan manusia selanjutnya. Untuk itu pemaknaan pendidikan harus didudukkan secara benar.

Jangan sampai direduksi hanya sekedar peningkatan kepintaran dan keterampilan seseorang. Manusia itu mempunyai jiwa yang hidup dan tidak sekedar robotik. Manusia dapat membuat robot dan mesin-mesin pintar, cepat, dan akurat, karena manusia mempunyai jiwa (soul) yang dapat membangkitkan imajinasi, inovasi, dan kreativitas.

Robot atau mesin pintar sebagaimanapun canggihnya, sama sekali tidak mempunyai komponen soul itu. Sehingga tidak mungkin robot dapat menciptakan apapun. Robot hanya mempunyai wilayah ketrampilan, sedangkan manusia mampu menciptakan keterampilan. Dus, reduksi pendidikan menjadi pelatihan akan merusak komponen jiwa dan aspek kreatifitas sangat vital dalam memecahkan berbagai masalah melalui penemuan-penemuan sains dan teknologi.

Manusia sebenarnya bisa membuat berbagai alat canggih seperti smart-phone, tablet, mobil, pesawat, jaringan internet, bioteknologi, dan teknologi menakjubkan lainnya karena manusia mempunyai soul. Di dalam jiwa inilah ada unsur-unsur kemanusiaan yang tidak dimiliki produk buatan manusia. Jiwa itulah yang menggerakan manusia dapat berimajinasi, berinovasi, dan berkreasi yang akhirnya menghasilkan konsep dan produk.

Tanpa kekuatan jiwa kemanusiaan yang hakiki, jangan harap seorang manusia dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia dan alam sekitarnya. Manusia yang sudah kehilangan esensi kemanusiaannya, hanya mampu berpikir materialistis, short term, brutal, dan sadistis. Sehingga jangan heran bila mereka senang memanfaatkan jabatan, duniawi, memburu harta, dan tahta melalui jalur-jalur tidak sehat. Kedudukan dan kepintaran sering dipergunakan untuk mengelabui perilaku bejat. Muncullah akhirnya fenomena suap, korupsi, dan perilaku sadis yang dilakukan oleh orang-orang cerdik pandai.

Berdasarkan pemikiran itu, saya mengajak semua komponen bangsa untuk merenungkan kembali makna yang mendasar dalam pendidikan. Kita sering ribut mempersoalkan ujian nasional dan angka partisipasi pendidikan, tetapi kita jarang menukik ke pembenahan pendidikan secara hakiki dan mendasar.

Kalau dilihat secara statistik, di hampir semua daerah terjadi peningkatan APK (Angka Partisipasi Kasar) dalam pendidikan. Para pejabat pemerintah daerah biasanya bangga bila ada peningkatan APK. Tetapi apakah ruang pendidikan dengan tingginya APK itu telah membuat masyarakat daerah itu semakin tertib, aman, damai, dan lingkungannya bersih? Apakah ada korelasi positif antara APK dan kerbersihan sungai di daerah itu? Sayangnya para pejabat, guru sekolah, dan pengamat pendidikan tidak menganggap perlunya korelasi itu.

Juga dengan maraknya tawuran dan kerusuhan sosial dianggap tidak ada kaitannya dengan pendidikan yang dicirikan oleh APK itu. Hal ini disebabkan makna pendidikan telah direduksi menjadi pelatihan yang terlalu berorientasi pada kepintaran dan ketrampilan saja. Aspek moral pun diajarkan dalam bentuk hafalan, bukan pemaknaan moral yang didukung oleh kondisi wilayah pendidikan yang bermoral.

Lebih jauh lagi, pola pendidikan yang sangat superfisial ini tidak akan mampu menghasilkan manusia-manusia kreatif dan beradab. Sehingga negara ini akan semakin tergantung kepada negara lain, termasuk masalah pangan dan energi. Padahal kedua sektor itu sumbernya berlimpah. Jadilah fenomena paradok yang berkepanjangan.

Bilamana kita tidak mengembalikan makna pendidikan secara benar, janganlah kita berharap Indonesia menjadi bangsa dan negara yang dihormati bangsa lain. Percayalah.(Penulis Prof Dr Asep Saefuddin, Rektor Universitas Trilogi).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>