Kajari Jakarta Timur Tertutup Ke Wartawan
By admin On 15 Feb, 2016 At 03:19 AM | Categorized As Jakarta Timur, METRO | With 0 Comments

KEJARI TIMURJAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokraksi dan penyedia informasi bagi masyarakat di jajaran Kejaksaan Tinggi DKI khususnya di Kejari Jakarta Timur masih terabaikan. Dampaknya, masyarakat yang peduli pembangunan dan penegakan hukum seringkali tidak dapat menyalurkan saran dan kritik disebabkan sikap kurang kooperatif dari pejabat publik yakni Kepala Kejaksaan Negeri tersebut.

Hal ini dialami sejumlah wartawan termasuk Koran TERBITTOP yang berusaha meminta konfirmasi sejumlah penanganan perkara pidsus dan pidum termasuk pengambilan barang bukti tilang yang kadang sampai membludak di dalam kantor hingga jalan di samping Gedung Kejari Jakarta Timur, pekan lalu. Sikap tertutup dari Kepala Kejaksaan Negeri R Narendra Jatna, SH, LLM itu sudah terendus lama di kalangan wartawan yang sehari-hari meliput di Kejaksaan.

Sikap tersebut sangat bertentangan dengan sikap keterbukaan yang sedang dibangun oleh Jaksa Agung HM Prasetyo, SH serta Kajati DKI Sudung Situmorang, SH, MH yang menempatkan pers sebagai market bagi penyebaran kinerjanya. Bahkan berbagai kesempatan Kajati selalu mendengungkan agar aparat di bawahnya untuk membangun interaksi yang positif dengan kalangan wartawan.

“Maaf bapak sedang sibuk tidak bisa ditemui,” ujar staf Tata Usaha Kejari Jakarta Timur kepada wartawan yang berusaha menemuinya pekan lalu. Sikap tertutup Kajari Jakarta Timur sempat disampaikan sejumlah wartawan dalam dialog dengan Kepala Kejaksaan Tinggi di ruang kerjanya.

“Silahkan tulis dulu nanti saya akan lihat dan melakukan evaluasi Kajari Jakarta Timur itu, karena kita akan tetap bekerja sama dengan wartawan dalam penyebaran hasil kinerja,” ucap Sudung Situmorang. Bahkan sejumlah wartawan berencana membawa sikap Kajari tersebut kepada forum wartawan di Kejaksaan Agung untuk dilaporkan kepada Jaksa Agung.

Sejumlah pejabat publik yang masih belum membuka diri dan tidak bersikap transparan terhadap sebuah informasi ini disebabkan kurangnya pemahaman terhadap Undang-Undang Nomor 40/1999 tentang Pers. Dampaknya, setiap informasi yang diperlukan wartawan untuk sebuah penyajian berita, sering tidak akurat.Bukan wartawannya yang tidak ingin mencari informasi tapi pejabat terkait yang disoroti terkesan menghindar dan tidak terbuka. (end/ris)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>