Pendidikan Dasar dan Otonomi Universitas
By admin On 14 Aug, 2016 At 02:52 AM | Categorized As ENTREPRENEURSHIP | With 0 Comments

Prof Asep menyerahkan plakat ke rektor coban asPada waktu Bung Karno berpidato di depan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Penyiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 1 Juni 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas. Disebut sebagai jembatan emas karena begitu pentingnya kemerdekaan Indonesia. Di seberangnya adalah Negara Indonesia yang bebas untuk membangun bangsanya. Salah satu yang ditegaskan Bung Karno adalah keleluasaan menangani pendidikan. Tanpa pendidikan, mustahil Indonesia maju dan bermartabat.

Kini kita telah memasuki usia 71 tahun merdeka. Apakah benar pendidikan kita sudah mampu membentuk manusia seutuhnya yang kreatif, inovatif, pekerja keras, mampu bekerjasama, rajin dan cerdas? Saya pikir kita perlu merenungkan kembali hakekat pendidikan ini. Mengapa? Karena tidak jarang kita terjebak pada terjemahan sempit dari arti pendidikan sekadar pengajaran dan transfer ilmu pengetahuan saja. Reduksi makna pendidikan ini bisa berefek fatal terhadap masa depan bangsa akibat kurang bertumbuhnya manusia-manusia kreatif, pekerja keras dan mampu bergotong royong. Termasuk kurang berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mayarakat yang saling membantu dalam kebaikan inilah yang seharusnya terwujud dalam Indonesia merdeka. Bukan masyarakat yang saling mempersulit, lambat, tidak cekatan dan tidak peduli sesama. Masyarakat kita harus membuang kebiasaan SMS (Senang Melihat orang Susah atau Susah Melihat orang Senang). Pola pikir ini akan merusak birokrasi yang mestinya lancar jadi lambat. Yang mestinya sederhana jadi “njelimet”. Akibatnya kemajuan sering terhambat dan pada saat yang sama “pelicin” alias korupsi semakin marak. Semua itu harus dibereskan melalui pendidikan, selain penegakkan hukum yang adil.

Pendidikan Dasar

Sebagai fondasi awal, pendidikan dasar sangat penting untuk pembentukan manusia seutuhnya. Bisa dikatakan pendidikan dasar inilah pendidikan sebenarnya yang jangan sampai tereduksi ke sekedar pengajaran. Untuk itu peran guru yang betul-betul memahami makna pendidikan menjadi sangat penting. Jangan diartikan bahwa pendidikan dasar itu lebih rendah daripada pendidikan selanjutnya, yakni menengah dan tinggi. Harus dipahami bahwa pendidikan dasar adalah fondasi.

Memang bila pendidikan hanya dilihat pada aspek sains dan teknologi, pendidikan dasar lebih rendah daripada pendidikan menengah dan tinggi. Sayangnya pemahaman inilah yang sering berkembang di dalam sistem pendidikan Indonesia. Hal ini disebabkan karena pendidikan hanya sebatas penguatan ilmu pengetahuan. Tidak dipandang sebagai tahap awal pembinaan manusia seutuhnya.

Kesalahan pemahaman inilah yang menyebabkan kurikulum pendidikan dasar penuh dengan materi-materi ilmu pengetahuan yang cenderung spesifik. Para guru cenderung memberi tugas-tugas kelas dan rumah yang membuat siswa-siswi sibuk dengan urusan-urusan sekolah. Orang tua juga terbawa ke arus ini sehingga mereka ikut sibuk mengontrol penyelesaian PR anak-anak mereka. Pendekatannya terlalu deduktif (top down) dan kuantitatif. Sehingga volume tugas sangat banyak. Bukan kualitasnya yang ditekankan.

Karena berbagai kendala, pada kenyataannya guru tidak mampu memeriksa tugas-tugas yang diberikan. Hal ini sangat berbahaya terhadap kesungguhan anak-anak. Manakala mereka sudah mengerjakan tugas akan tetapi tidak diperiksa, maka lama kelamaan mereka menjadi malas atau bahkan hilang harapan (hopeless). Hubungan guru-murid menjadi terganggu.

Kalaupun guru harus memberi PR, sebaiknya tidak perlu banyak-banyak. Dan hasilnys harus diperiksa. Hal ini bukan sekedar untuk mengetahui aspek kognitif atau pemahaman murid tentang mata ajaran. Akan tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa semangat, percaya diri, dan kerajinan anak didik. Rajin jauh lebih penting daripada pintar. Fakta membuktikan bahwa orang-orang rajin umumnya bisa pintar, sedangkan orang pintar belum tentu rajin. Juga dalam dunia kerja, perusahaan lebih menyukai orang rajin daripada orang pintar.

Pada level pendidikan dasar inilah kebiasaan murid untuk saling bantu, bekerjasama, simpati, empati, dan kasih sayang sesama teman harus ditumbuhkan. Kecintaan terhadap binatang, tanaman, dan lingkungan sekitar harus mendapat perhatian. Anak-anak harus tahu tempat membuang sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Efek dari sini adalah kedisiplinan, kebersihan, dan keteraturan. Jauh lebih penting dari sekadar penjejalan teori dan informasi.

Nuansa persaingan jangan terlalu ditekankan. Dengan demikian, pendidikan dapat mengeluarkan potensi secara bebas, tanpa tekanan-tekanan ingin lebih, ingin mengalahkan teman yang cukup menguras energi. Tugas-tugas yang mendukung pada kerjasama itulah yang harus lebih mendapat porsi.

Tugas guru pendidikan dasar ini cukup berat yang menuntut guru tidak boleh menyambi pekerjaan di luar tugasnya. Jangan sampai perhatian terhadap murid tersita oleh kegiatan guru untuk mencari tambahan. Artinya, kebutuhan primer dirinya dan keluarganya harus dipenuhi oleh lembaga sekolah. Kepastian sekolah dan kesehatan keluarganya harus mendapat jaminan. Pemerintah harus hadir di sini. Dana pajak dan CSR (corporate social responsability) harus diprioritaskan untuk pendidikan.

Aparat pemerintah dan anggota DPR harus peduli penuh soal pendidikan dasar ini. Kehancuran sejak awal ini sangat merugikan bangsa dan negara. Lihatlah saat ini bagaimana disiplin pengguna jalan lalulintas. Dunia kesehatan dengan obat dan vaksin palsu. Dunia perguruan tinggi dengan ijazah palsu. Narkoba merajalela. Korupsi tetap marak. Semuanya sangat merusak bangsa dan negara. Selain sangat mahal secara biaya sosial ekonomi. Dus, membenahi pendidikan dasar jauh lebih baik daripada membiarkan seperti ini.

Pada pendidikan menengah, prinsipnya mirip dengan pendidikan dasar tetapi aspek sains, teknologi, dan keterampilan mendapat porsi lebih besar daripada jenjang dasar. Kuriositas murid mulai difasilitasi dengan praktikum-praktikum yang relatif berat. Ilmu pengetahuan sudah lebih banyak dan spesifik. Pekerjaan rumah dan tugas-tugas lainnya secara kuantitas mulai ditambah yang harus diperiksa. Namun tetap mengedepankan aspek kerjasama.

Pendidikan Tinggi.

Porsi pendidikan tinggi intinya tinggal melanjutkan dari jenjang sebelumnya. Bila aspek-aspek kerajinan, kerjasama, dan kesungguhan sudah terbentuk, perguruan tinggi tinggal menajamkan kekuatan bakat dan potensi seseorang. Secara umum perguruan tinggi harus mengupayakan mahasiswa mampu menjadi entrepreneur selain profesional. Sebagian dari mereka diarahkan menjadi ilmuwan. Untuk komponen ilmu ini cukup 10-15%.

Peta kebutuhan tenaga kerja dalam dan luar negeri harus dibuat mendekati jumlah sebenarnya. Lembaga pemerintah harus diisi oleh para profesional yang disiapkan melalui sistem pendidikan tinggi. Begitu juga bidang keahlian lembaga-lembaga dunia di bawah PBB harus dipetakan. Jangan sampai lembaga-lembaga seperti ini hanya bisa diisi oleh orang asing padahal kedudukannya di Indonesia. Kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Apalagi di negara asing, jarang professional kita mengisi lembaga-lembaga internasional itu. Hal itu karena PT kita kurang memperhatikan keperluan tenaga ahli di lembaga internasional.

Secara umum mahasiswa harus mempunyai kemampuan yang memadai dalam komunikasi lisan dan tulisan. Bidang studi apapun mereka wajib mengusai keterampilam komunikasi ini. Untuk itu dosen harus selalu meningkatkan kemampuan komunikasi, selain bidang keilmuan masing-masing. Dan komunikasi ini dilakukan dalam bahasa asing, terutama Inggris, dan tentu bahasa kita (Indonesia).

Ekosistem universitas harus dibangun sedemikian rupa mendukung terhadap budaya entrepreneurship dan keterbukaan. Kegiatan intra dan ekstra kurikuler dikemas secara sinergi saling mendukung. Perilaku berbasis soft-skill dikembangkan dalam kelas dan luar kelas. Selain komponen hard-skill sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi.

Kondisi ini tentu memerlukan kebebasan pengelola universitas supaya tidak terlalu terjebak pada regulasi kaku. Keleluasaan inilah yang akan membentuk sivitas akademika menjadi masyarakat ilmiah yang kreatif. Tidak selalu menunggu arahan dari lembaga pemerintah. Dalam perkataan lain, otonomi universitas menjadi faktor penting untuk membuat pelaksanaan pendidikan yang bermutu. Jadilah kampus sebagai trust based society, masyarakat yang berbasis kepercayaan. Bukan suatu tempat yang sering dicurigai. Semoga.Penulis : Asep Saefuddin Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika IPB

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>