Gerakan Tanam Cabe
By admin On 1 Apr, 2017 At 12:05 PM | Categorized As INSPIRASI POSDAYA | With 0 Comments

prof-haryono-di-universitas-unssoedBupati Pacitan, Drs. H. Indartato, MM, yang kabupatennya terkenal sebagai kabupaten tandus, seribu guwa, kaya akan pantai dan gunung yang indah, biasa disebut kabupaten miskin tetapi telah menghasilkan tokoh-tokoh nasional yang berhasil menjadi pejabat tinggi, Menteri, Wakil Ketua DPA, Menko dan Presiden, akhir-akhir ini juga berhasil mengembangkan tidak kurang dari 2050 Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) pada tingkat pedesaan yang dengan berani mengajak rakyatnya mengembangkan gerakan penanaman cabai. Gerakan ini kelihatan sepele, tetapi mengandung makna yang luar biasa bagi rakyat yang biasanya hanya bertani di sawah atau di ladang dengan tanaman padi pada musim hujan.

Saya pernah mengenal seorang Bupati dari Gorontalo, yaitu almarhum Bupati Dr. H. Iwan Bokings dari Kabupaten Boalemo yang sangat peduli terhadap usaha pengentasan kemiskinan rakyatnya di Kabupaten yang dipimpinnya. Bupati Iwan mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Kabupatennya, mengadakan pendataan keluarga di setiap Posdaya dan menghimbau keluarga yang mampu memberi perhatian terhadap keluarga prasejahtera dan mengajak mereka berbagi sesama, khususnya dalam pemberdayaan dan bantuan dukungan bagi keluarga yang masih prasejahtera.

Keluarga prasejahtera dibantu dengan upaya-upaya pelatihan ketrampilan, ada program bedah rumah dan relokasi dari keluarga yang kumuh ke perkampungan yang dibantu dengan perumahan lengkap dengan segala perangkat seperti pasar, Masjid dan sarana sekolah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut. Keluarga mampu diberi kesempatan mengembangkan warung atau berdagang guna memenuhi kebutuhan seluruh keluarga yang membaur dalam perkampungan yang kemudian berkembang dengan baik itu.

Saya masih ingat, sewaktu berbincang dengan beliau bahwa untuk usaha pengentasan kemiskinan bukan saja kesediaan keluarga kaya membantu keluarga miskin yang perlu bantuan, tetapi keluarga miskin yang menjadi sasaran harus dengan ikhlas ikut mengulurkan tangannya, mengubah budaya meminta bantuan menjadi keluarga yang siap bekerja keras secara konsisten dan berkelanjutan agar makin lama makin membudaya dan biasa bekerja keras dengan disiplin baja dan akhirnya menikmati kerja keras itu sebagai suatu budaya yang diikuti dengan disiplin tinggi sesuai irama dari kerja yang dilakukannya.

Kerja keras itu harus dimulai dengan sesuatu yang sederhana dan tidak rumit agar sasaran keluarga miskin bisa berkata, “ya”, kalau gitu saja “saya bisa”. Salah satu dari kerja sederhana itu adalah mengubah halaman rumahnya menjadi kebun bergizi untuk ditanami dengan tanaman yang dengan mudah bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dikonsumsi secara rutin, nikmat dan akhirnya menguntungkan.

Kelihatannya sederhana, tetapi waktu kegiatan itu dicanangkan, saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa rakyat banyak tidak terlalu “happy”, apalagi bersemangat, karena harus kerja keras mencangkul halaman rumahnya, menyuburkan tanah dengan pupuk dan secara sabar menanam bibit tanaman sayur yang harus dengan sabar di siram agar bisa tumbuh subur. Para camat dan Kepala Desa, Ketua RW dan RT dikerahkan memberi semangat dan mengontrol kegiatan yang diawasi dengan ketat oleh Bupati yang peduli tersebut. Di Kabupaten Bualemo, Bupati membentuk suatu Tim Operasional yang ditugasi mengawai secara ketat dan melapor langsung kepada Bupati yang sengaja mau sibuk memperhatikan karya rakyat banyak tersebut secara konsisten dan berkelanjutan.

Beberapa bulan kemudian terjadi krisis cabai, seperti hari-hari ini. Harga eceran cabai di pasar Gorontalo melambung tinggi. Secara kebetulan cabai yang ditanam penduduk di halaman rumahnya mulai berbuah dengan baik. Setelah beberapa hari, tiba waktunya ada panen cabai secara masal. Secara kebetulan, sebagai salah satu pendorong semangat, saya diundang Bupati ikut menyaksikan panen massal di suatu desa yang semula masyarakatnya “agak segan” ikut dalam gerakan masal itu.

Apa yang terjadi sungguh sangat mengagumkan. Rakyat berbondong dengan sukacita ikut secara massal dan ceria panen cabai yang harganya melambung. Setiap orang yang berpapasan dengan Bupati dan rombongan mengulurkan tangan disertai senyum dan ciuman tangan yang ikhlas dan penuh kesejukan. Panen dan gerakan Kebun Bergizi mulai menunai titik awal yang dianggap berhasil. Rakyat senang menanam dan memelihara kebunnya. Apakah itu cukup. Tidak. Karena keberhasilan awal itu dipicu oleh sesuatu yang dramatis. Tidak mungkin setiap hari ada pelonjakan harga cabai. Dilain hari ada kemungkinan harganya merosot lagi karena pemilik kebun cabai sudah panen melimpah sehingga persediaan cabai di pasar juga melimpah. Perlu pengawasan dan dukungan agar keberhasilan awal itu berlanjut menjadi budaya yang lestari dan dikawal dengan ketat penuh kasih sayang oleh rakyat banyak untuk ikut menjadi pemasok yang diperhitungkan pasar.

Gerakan di Pacitan pernah di mulai dengan membangun Posdaya di hampir semua desa dan di setiap desa anggota Posdaya dianjurkan membangun Kebun Bergizi di halaman rumahnya. Dinas terkait dilibatkan tetapi tidak terlalu intensif karena merasa bukan perintah yang “keras”, karena merupakan gerakan dengan komitmen yang tidak terlalu kencang tanpa dukungan anggaran yang memadai. Kegiatan Kebun Bergizi dilakukan dengan menggunakan “kresek”, dan sangat sedikit dukungan penjelasan dari Dinas terkait. Setelah desa yang berhasil ditinjau oleh Presiden RI, yang kebetulan juga berasal dari Pacitan, satu demi satu gerakan itu seakan kehilangan momentumnya.

Hari-hari ini Bupati Pacitan dengan gegap gempita menggerakkan rakyat Pacitan dengan dukungan Dinas yang terkait mengeluarkan anjuran menanam cabai, membuat Kebun Cabai, suatu gerakan mini dari Kebun Bergizi. Posdaya yang pernah mengembangkan Kebun Bergizi perlu di himbau ikut serta dalam gerakan penanaman cabai ini dengan tanaman yang lebih luas. Tanaman yang lebih luas itu misalnya dengan mengubah secara bertahap sawah-sawah yang menanam padi dengan sistem padi atau tanaman lain dengan sistem dan pupuk Organik. Tanaman sayuran, buah atau padi dengan pupuk dan sistem tanam Organik ini akan menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan gizi yang lebih baik karena kualitas pupuk yang tidak tercemar dengan zat kimia. Bagi tanah juga akan lebih awet karena tidak rusak dengan adanya zat kimia yang terbawa dan merusak tanah yang tercemar oleh pupuk dan sisa zat kimia yang ada.

Produk Organik dewasa ini menjadi idaman dari masyarakat modern. Karena Pacitan sangat dekat dengan Yogyakarta dan Surakarta yang kaya tamu luar negeri sebagai turis yang di negaranya biasa konsumsi makanan hasil pertanian sistem Organik, maka kesempatan itu sangat terbuka. Kalau selama kunjungan diajak makan dengan produk organik, mereka akan merasa nyaman atau lebih nikmat. Karena itu produk Organik Pacitan memiliki pasar yang luas untuk para turis yang melimpah di Yogyakarta dan Surakarta. Kalau tanaman cabai, buah dan tanaman padi Organik bisa dikembangkan, maka Pacitan bisa menjadi pemasok untuk konsumsi turis yang di negaranya biasa makan dengan makanan yang diolah dalam sistem Organik. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Dewan Penasehat Maporina).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>