Tempe Warisan Budaya Bangsa
By admin On 29 Apr, 2017 At 07:31 AM | Categorized As INSPIRASI POSDAYA | With 0 Comments

posdaya-satuBulan lalu dengan penuh kebanggaan Institut Pertanian Bogor (IPB), dipimpin oleh Rektor dan dihadiri oleh puluhan Guru Besarnya menggelar acara Orasi Ilmiah tiga orang Guru Besarnya yang sangat terpelajar dengan penuh kebanggaan. Ketiga Guru Besar yang sangat terpelajar itu adalah Prof. Dr. drh. Tutik Wresdiyati, Ph.D., P.A.Vet., Prof. Dr. Ir. Juang Rata Matangaran, M.S., dan Prof Dr. Ir. Made Astawan, M.S.

Ketiganya memiliki spesialisasi yang luar biasa dan karena masalah waktu dan banyak Guru Besar yang akan mengetengahkan hasil-hasil penelitian dan penemuan ilmiahnya, IPB membuat acara Orasi Ilmiah itu menjadi satu untuk tiga orang Guru Besar yang sangat terpelajar tersebut. Pada hakekatnya setiap topik Orasi merupakan suatu topik yang sangat menarik dan pantas di sajikan tersendiri sebagai topik tunggal yang sangat berguna untuk dicermati dan banyak manfaatnya untuk pembangunan bangsa dan negara.

Salah satu topik Orasi Ilmiah Guru Besar hari itu adalah Orasi dari Prof. Dr. Ir. Made Astawan, M.S., yang sesungguhnya yang bersangkutan yang lahir pada tanggal 2 Februari 1962 telah menjadi Guru Besar IPB sejak tahun 2001. Orasi Ilmiah beliau rupanya sengaja ditunda agar bisa dilakukan bersamaan dengan Orasi istri tercinta beliau, Prof. Dr. drh. Tutik Wresdiyati, Ph.D., P.A.Vet yang pagi itu juga melalukan Orasi Ilmiahnya sebagai Guru Besar pada Perguruan Tinggi yang sama. Topik yang dipilih Prof. Dr. Ir Made Astawan MS nampak sederhana, “Tempe sebagai warisan budaya dan pangan fungsional persembahan dari Indonesia untuk dunia”.

Pilihan ini mengingatkan beliau pada pernyataan Presiden RI pertama yang menganggap seakan tempe merupakan sesuatu yang rendah nilainya, sehingga Bangsa Indonesia yang dianggap masih berkualitas rendah disamakan sebagai bangsa tempe.

Dalam Orasinya yang menarik dari awal sampai akhir ternyata bahwa tempe adalah suatu produk warisan bangsa yang telah dikenal sejak abad ke 1600-an, berkat tulisan dalam Serat Centini yang ditulis oleh Rangga Sutrasna pada tahun 1815 menceritakan kejadian di masa Sultan Agung di Mataram sekitar tahun 1615-1645. Tempe memiliki nilai vitamin, mineral, asam lemak tidak jenuh, peptida dan asam animo, serat pangan, prebiotik, probiotik, isoflavon, fitosterol dan lainnya yang sangat penting untuk kesehatan rakyat.

Pada waktu tempe telah diakui oleh tidak kurang dari 27 negara di dunia serta menyebar di lebih banyak negara lainnya. Suatu warisan budaya yang sangat menakjubkan biarpun menurut Prof. Dr. Ir. Made Astawan, M.S, karena di masa lalu cara produksi tempe adalah sederhana dengan diinjak-injak untuk melepaskan kulitnya dan terkesan kumuh, maka Bung Karno menyebutkan agar bangsa Indonesia tidak jadi bangsa tempe yang menginjak-injak.

Andaikan Bung Karno masih hidup dan mengetahui bahwa cara membuat tempe dewasa ini sudah sangat higienis dan tempe diakui dunia yang luas, hampir pasti Bung Karno akan mengubah pernyataan beliau. Bung Karno akan bangga dan berkata sungguh beruntung menjadi Bangsa Tempe yang kaya akan nilai gizi dan telah memberi sumbangan kepada umat manusia di seluruh penjuru dunia.

Tempe yang berasal dari fermentasi kedelai memiliki sifat sangat berbeda dengan bahan bakunya. Sebagai bahan baku pangan, tempe adalah yang paling banyak diteliti dan dibahas dalam berbagai tulisan, hanya sayangnya banyak bahasannya berasal dari luar negeri. Di satu pihak bukti ini menggambarkan bahwa tempe memiliki daya tarik yang tinggi secara ilmiah, hanya sayang dilakukan oleh para peneliti asing. Menurut Prof. Made Astawan, nilai produksi tempe yang terbesar dikuasai oleh Indonesia, sayangnya bahan baku tempe, yaitu kedelai, sampai dewasa ini sebagian terbesar masih harus diimpor. Upaya untuk swasembada masih juah dari kenyataan.

Minat petani untuk menanam kedelai masih sangat terhambat karena nilai jualnya yang relatif kalah dibanding komoditas lainnya. Upaya untuk meningkatkan mutu dan jumlah produksi untuk setiap hektar baru pada tingkat penelitian dan belum menghasilkan kebijaksanaan yang menguntungkan petani kedelai.

Dewasa ini telah banyak penelitian yang membantah anggapan bahwa konsumsi tempe meningkatkan penyebab infertilitas kaum pria. Tetapi banyak penelitian ternyata membuktikan bahwa konsumsi tempe tidak menyebabkan meningkatnya konsumsi isoflavon oleh pria, sehingga tidak menyebabkan infertilitas bagi kaum pria. Demikian juga tempe yang oleh sementara pihak disangkakan menjadi penyebab asam urat telah dapat dibuktikan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Tempe tidak meningkatkan asam urat sehingga tidak menjadi penyebab gout.

Orasi ilmiah Prof. Made Astawan juga mengungkap adanya berbagai inovasi tentang tempe menyangkut inovasi cita rasa yang membuat cita rasa tempe yang makin bervariasi. Di luar negeri tempe tidak disajikan dalam bentuk segar tetapi sudah berbumbu, ada tempe rasa kari, tempe rasa wijen bawang putih dan tempe rasa baby asap serta rasa jeruk lemon. Disamping inovasi dalam hal rasa, tempe juga mengalami inovasi dalam bentuk kemasan sehingga dapat disajikan dalam kemasan yang modern dan menarik para konsumen. Begitu juga telah ada banyak model dalam hal inovasi pengolahan sehingga konsumen mendapatkan kesan yang sangat berbeda tentang tempe masa lalu dan tempe yang muncul dalam jaman yang lebih modern dewasa ini.

Tempe dalam bentuk aslinya disebut sebagai tempe Generasi pertama atau G-1. Tempe generasi pertama masih muncul seperti tempe biasa yang cita rasa maupun wujudnya sama dengan tempe dalam bentuk asli. Tempe G-1 ini masih sangat populer dan disukai hampir di seluruh dunia. Tempe G-1 muncul sebagai sayur yang lezat dengan kombinasi ikan, daging atau tambahan lain yang membuat sajian tempe terasa nikmat karena rasa pedasnya cabai atau karena kombinasi dengan bahan lain yang dicampur dalam olahan kuliner yang mahir.

Tempe G-2 adalah wujud makanan dengan bahan baku tempe tetapi diolah menjadi bubuk dan disajikan dalam bentuk lain seperti nuget, kue dalam wujud lain, ada untuk orang dewasa dan ada juga untuk bayi atau dalam wujud makanan lain yang bahan bakunya berasal dari olahan tempe yang disajikan dalam wujud yang tidak lagi seperti tempe tetapi dalam wujud yang tidak lagi dikenal sebagai tempe yang muncul dalam kombinasi dengan es krim atau ramuan lainnya.

Tempe generasi G-3 lain lagi bentuk dan penyajiannya. Tempe G-3 disiapkan untuk kesehatan, utamanya diambil sebagai anti kolesterol, anti oksidan, anti kanker dan lainnya. Bentuk tempe G-3 ini bisa juga dikembangkan sebagai food suplement dengan kandungan yang baik karena nilai gizi dan kandungan lain yang ada di dalam nilai makanan berbasis tempe yang sangat tinggi itu.

Tempe sebagai warisan budaya mampu mengangkat nama bangsa dan memberi kontribusi terhadap cita rasa dan kuliner dunia. Dengan menyimak Orasi Ilmiah yang menarik dari Prof. Dr. Ir. Made Astawan, M.S itu, bangsa Indonesia makin bangga menjadi bangsa tempe yang merajai kuliner dunia. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pembina Yayasan Anugerah).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>