PetroChina Siap Garap Bisnis Hilir Migas
By admin On 13 Jun, 2017 At 01:01 AM | Categorized As Energi | With 0 Comments

petro-chinaJAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Perusahaan migas asal Tiongkok PetroChina bersiap mengembangkan bisnis di sektor hilir minyak dan gas bumi sebagai komitmen memperkuat keberadaan perseroan yang sudah lima belas tahun beroperasi di Indonesia.

“Kantor pusat sudah memberikan arahan agar mencoba diskusi dengan pemangku kepentingan di Indonesia mengenai peluang bisnis tidak hanya hulu (upstream) tetapi juga di hilir (downstream),” kata Vice President Kemitraan dan Hubungan Pemerintah PetroChina Indonesia, Budi Setiadi kepad pers di Jakarta baru-baru ini .

Dikatakannya saat ini PetroChina membuka peluang dengan berbagai pihak untuk mengembangkan bisnis migas di Indonesia termasuk dengan Pertamina. PettoChina mencoba berdiskusi dengan Pertamina tidak cuma soal pengelolaan blok migas tetapi juga di sektor hilir seperti kilang dan petrokimia,” katanya.

Menurut Budi Setiadi alasan PetroChina ingin terjun ke sektor hilir migas, menurut dia, sejalan dengan perkembangan perusahaan yang sudah cukup lama beroperasi di Indonesia.

Langkah tersebut juga sebagai komitmen PetroChina tetap mengembangkan bisnis di Indonesia kendati industri migas sedang lesu akibat harga minyak yang rendah. “Kendati harga minyak masih di kisaran 45 dolar AS per barel, kami tetap ingin berkontribusi dalam kegiatan migas nasional,” ujarnya.

Sementara untuk meningkatan produksi, menurut Budi, PetroChina terus mencari blok migas baru seiring akan berakhirnya kontrak blok Tuban pada 28 Februari 2018. Jika ada wilayah kerja yang menarik dan ekonomis, akan dipertimbangkan untuk diakuisisi, katanya.

Diungkapkannya PetroChuna sudah melakukan pembicaraan awal dengan Pertamina yang menjadi mitra perseroan di Tuban, bicara secara business to business, apa bisa masuk lagi,.

“Kami sudah melakukan pembicaraan awal dengan Pertamina yang menjadi mitra perseroan di Tuban, bicara secara business to business, apa bisa masuk lagi,” kata Budi.

Wilayah kerja blok Tuban Jawa Timur dimiliki oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Tuban East Java sebesar 50 persen, Petrochina International Java 25 persen dan PT Pertamina Hulu Energi Tuban sebesar 25 persen.

Pada awal tahun ini, pemerintah sudah memutuskan untuk memberikan pengelolaan blok Tuban kepada Pertamina dengan rezim “gross split”.Energi Tuban sebesar 25%. Pada awal tahun ini, pemerintah sudah memutuskan untuk memberikan pengelolaan blok Tuban kepada Pertamina dengan rezim “gross split.”

Untuk memperbesar cadangan, PetroChina aktif melakukan eksplorasi di wilayah kerja Jambi serta melakukan kegiatan seismik sepanjang 320 kilometer.
“Bahkan kami baru saja menemukan cadangan baru Sumur Tiung-3 serta melakukan tajak sumur eksplorasi di Jambi,” katanya.

Budi mengatakan pada tahun 2017 PetroChina menargetkan produksi 80.000-85.000 BOEPD. Angka ini turun dari 2016 sebesar 90 BOEPD seiring lesunya industri. “Ini normal dan natural, karena industrinya memang sedang lesu. ucapnya menambahkan.

Dalam kesempatan terpisah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong sejumlah perusahaan China untuk meningkatkan investasinya di sektor minyak dan gas bumi di Indonesia.

“Perusahaan migas Tiongkok memang masih kurang karena mereka baru 15 tahun melakukan investasi di Indonesia,” katanya kepada Antara di Beijing, Kamis pekan lalu.

Menurut Jonan hal itu berbeda dengan perusahaan-perusahaan migas dari Amerika Serikat yang sudah cukup lama berinvestasi di Indonesia.

“Kalau Chevron yang dulu namanya Caltex atau Exxon sudah cukup lama. Chevron di Duri, Minas, dan Rumbai (Riau) itu sudah 100 tahun di sana. Memang investasinya besar sekali,” ujarnya saat ditemui seusai mengikuti Konferensi Tingkat Menteri tentang Energi Bersih (CEM) kedelapan itu.

Dia menyebutkan beberapa perusahaan migas China yang sudah berinvestasi di Indonesia, seperti PetroChina, CNOOC, dan CITIC.”PetroChina sudah investasi di beberapa blok migas kita, CITIC ada di Pulau Seram, CNOOC punya 18 persen di LNG Tangguh, juga ada di Jambi, Tuban, dan sebagainya,” kata mantan Menteri Perhubungan itu didampingi Duta Besar RI untuk China Soegeng Rahardjo.

Meskipun demikian, Jonan menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan prioritas kepada perusahaan dari negara tertentu untuk investasi di sektor migas.

“Kita tidak pilih kasih. Mau Jepang, Amerika, China. Saya sudah berkunjung ke Jepang, sekarang China, Mungkin setelah Idul Fitri akan ke Amerika untuk berbicara dengan Conoco Philip, Exxon, dan Chevron juga ke Eropa dengan BP, Total dan Italia,” ujarnya.

Ajang tahunan yang digelar di Beijing itu diikuti menteri dan pejabat tinggi dari 24 negara. Dalam CEM kedelapan tersebut, Menteri ESDM mendapatkan kesempatan mengadakan pertemuan bilateral dengan China selaku tuan rumah.

Menteri ESDM sebelumnya menilai lelang blok-blok migas oleh pemerintah tidak menarik minat investor karena dilakukan seperti pengumuman penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.

“Selama ini model tendernya menurut saya seperti pengumuman universitas. Misal, dibuka jurusan tata boga, jadi semua daftar,” katanya.

Menurut Jonan, model lelang blok migas seharusnya tidak seperti itu. Pemerintah Indonesia, harus mengundang investor potensial dan memberikan penjelasan yang baik agar mereka tertarik masuk ke blok tersebut.

Dalam catatan Kementerian ESDM sejak 2014 lelang blok migas di Indonesia sepi peminat. Dari 21 blok migas yang dilelang pada 2014, hanya ada 11 blok yang laku. Tahun berikutnya, dari delapan blok yang dilelang tidak ada satu pun yang laku. (maf)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>