Pensiunan BKKBN Terharu ketika Program KB berhasil
By admin On 26 Jan, 2018 At 02:43 PM | Categorized As Kesehatan | With 0 Comments

juang-bkkbnJAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Ketua Umum Paguyuban Juang Kencana atau PJK-BKKBN, Pristy Waluyo didampingi Ichwan Ichlas, Indra Wirdhana dan Retno Munfaati bersilaturahmi dengan Haryono Suyono, mantan Kepala BKKBN yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PB PWRI bertempat di Kampus Universitas Trilogi Jakarta belum lama ini. Mereka merasa sangat terharu bahwa keberhasilan program KB di masa lalu, yang dipercepat sepuluh tahun dan tahun 1990 telah menurunkan tingkat kelahiran separo dibanding keadaan tahun 1970, para pensiunan itu tetap bersemangat ingin membantu pembangunan keluarga sejahtera.

Dijelaskan pada, pada tahun 2017, berkat landasan dasar yang kuat sebelum tahun 2000, gerakan KB berlanjut di dukung keluarga lansia yang berpengalaman KB, biarpun program KB sempat menghasilkan angka fertilitas stagnan pada 2,6 anak, dewasa ini berkat pendidikan anak-anak akseptor yang makin tinggi.

“Rata-rata bekerja dan hidup dalam alam perkotaan, angka kelahiran anak para akseptor itu menurun menjadi rata-rata 2,4 anak,”jelas Haryono Suyono.

Haryono Suyono yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Kementerian PDTT menjelaskan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 yang baru disebarluaskan, dapat dibaca bahwa angka fertilitas beberapa provinsi yang sudah rendah pada tahun 1990-2000 karena program KB yang berhasil, mendapat dukungan yang tinggi dari dampak modernisasi karena peningkatan pendidikan anak perempuan.

Anak perempuan yang dididik itu kata Haryono bekerja di luar rumah, dan modernisasi lain seperti berubahnya daerah tempat tinggal yang semula desa menjadi daerah perkotaan baru, menyebabkan pengalaman orang tua ber-KB diikuti oleh anak-anak dan mantu mereka.

“Karena itu tingkat kelahiran keluarga baru itu menjadi rendah dan ada kalanya lebih rendah dibanding tingkat kelahiran kedua orang tua mereka,”imbuhnya. Kondisi modernitas ini sesuai dengan perkembangan jaman di negara-negara maju yang akhirnya kesertaan KB bukan karena adanya gerakan KB yang gegap gempita tetapi berkat pelayanan ber-KB menjadi sangat mudah dan dilakukan setiap pasangan tanpa hambatan.

Haryono menambahkan tidak seperti di tahun 1970-an pada awal program KB digalakkan, selama tiga tahun terakhir, menurut SDKI yang diselenggarakan di seluruh Indonesia, ibu-ibu usia 15-64 tahun yang belum memiliki anak, pada waktu ditanya keinginan punya anak, secara spontan lebih dari 87 persen menjawab punya keinginan yang besar.

Pada wanita yang memiliki satu anak, jawaban itu katanya akan menurun menjadi hanya sekitar 28 persen. Hebatnya, pengaruh budaya keluarga kecil yang diperkenalkan sejak tahun 1970, kalau pertanyaan sama ditujukan pada ibu yang memiliki dua anak, maka yang menjawab ingin punya anak lagi merosot tajam menjadi hanya kurang dari 9 persen, suatu penurunan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Lebih jauh dia memaparkan pada ibu yang memiliki tiga anak, jawaban yang masih ingin anak lagi merosot lebih tajam menjadi hanya 4 persen saja. Ini berarti BKKBN tidak perlu lagi gusar bahwa budaya dua anak lebih baik sudah membudaya di Indonesia.

“Kalau dijajaki dengan pertanyaan yang agak berbeda, pada ibu yang baru memiliki satu anak, apakah tidak ingin anak lagi, yang menjawab “tidak ingin” hanya sekitar 2,2 persen,”ujar Haryono. Sedangkan pada ibu dengan dua anak, yang menjawab pertanyaan yang sama melompat menjadi sekitar 12,7 persen.

“Tetapi bagi ibu dengan tiga anak, jawabannya langsung melompat menjadi lebih dari 60 persen dan selanjutnya lebih drastis melompat ke angka di atas 70 – 80 persen! Suatu pertanda bahwa budaya dua anak laki perempuan sama saja sudah menjadi budaya bangsa!,”tuturnya.(haris)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>