Cegah Stunting, Peta Keluarga Diserahkan Ke Kades
By admin On 7 Feb, 2018 At 03:18 PM | Categorized As Kesra | With 0 Comments

rapat-dana-desaJAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Tim Pakar KemenDes PDTT yang terdiri dari Ketuanya Haryono Suyono dan para anggotanya Aviliani, Ivanovich Agusta, Bibit Waluyo, Jimmy Gani dan Kamil telah membahas buku petunjuk Padat Karya Tunai yang segera akan dikirim ke daerah-daerah dalam rangka kegiatan padat karya tahap pertama di Kementerian Desa PDTT, Selasa (6/2).Program ini, seperti diarahkan oleh Menko PMK beberapa waktu yang lalu akan diselenggarakan pada 100 kabupaten dan 1000 desa ditujukan utamanya untuk mencegah stunting yang masih melanda banyak daerah di seluruh Indonesia, utamanya pada keluarga miskin yang mengalami kehamilan tidak cukup gizi serta anaknya lahir dan tidak tumbuh secara sempurna.

Menurut Haryono Suyono kasus ini masih terjadi pada banyak desa dan keluarga miskin yang apabila tidak segera diatasi anak mereka akan tumbuh kerdil dan karena itu otak anak akan tumbuh tidak sempurna. Buku pedoman itu telah diminta agar BKKBN segera mengadakan koordinasi dengan semua Kepala Desa guna mempergunakan peta keluarga untuk memilih sasaran yang tepat untuk peserta Padat Karya yang dihubungkan dengan penanganan masalah stunting tersebut.

“Stunting seperti diketahui menyebabkan anak balita tumbuh tidak sempurna, sehingga seorang anak akan kurang menangkap apa yang terjadi di sekitarnya,”ungkap Haryono Suyono. Dia menilai kalau nanti sekolah, maka anak itu akan tertinggal dari kawan-kawannya.

Ditambahkan, hasil pertemuan terbatas itu segera dilaporkan pada Menteri Desa PDTT, Eko Putro Sandjojo, bahwa naskah buku petunjuk sudah lengkap dan segera dirapatkan pleno untuk disyahkan dan dibagikan kepada Bupati dan Kepala Desa yang dewasa ini telah mulai mendapat aliran dana langsung ke desanya.

Seperti diketahui Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak yang diterbitkan WHO.

Haryono menambahkan, selain pertumbuhan tidak normal, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Apabila terlambat stunting tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dicegah dengan memberi perhatian masukan gizi yang baik pada saat ibu hamil dan anak-anak dalam tumbuh kembangnya sebelum berusia dua tahun.

“Karena itu program padat karya tunai pertama–tama ditujukan utamanya pada keluarga miskin muda, utamanya yang isterinya hamil atau baru saja melahirkan dan anaknya belum berusia dua tahun agar memperoleh pekerjaan dalam Padat Karya sehingga memiliki pendapatan guna memberi masukan gizi yang lebih baik kepada istri dan anaknya,”tuturnya.

Disamping intervensi melalui Padat Karya kta Haryono setiap Kepala Desa perlu memberi perhatian yang tinggi berupa penyegaran terhadap kegiatan Posyandu dan kesertaan keluarga muda dalam KB agar tidak terlalu banyak anak, tidak mempunyai anak terlalu rapat dan memberi perhatian terhadap ibu hamil dan menyusui agar bisa menyusui dengan sempurna bagi anaknya sebelum anak brusia dua tahun.

“Kombinasi dari perhatian itulah yang bisa mencegah stunting dengan baik dan mengantar anak Indonesia tumbuh sempurna dan menjadi sumber daya manusia yang handal dan berguna untuk nusa dan bangsa,”jelas Haryono Suyono. (haris)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>