Tajuk : Aksi Teror dan Radikalisasi
By admin On 24 Feb, 2018 At 12:35 AM | Categorized As Tajuk | With 0 Comments

koran-terbittopOrmas Tenaga Anti Radikalisasi Indonesia (Tantra) meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk mengungkap secara tuntas hingga ke akarnya para aktor intelektual baik perorangan maupun kelompok yang meresahkan umat beragama dengan aksi-aksi kekerasannya. Hal itu disampaikan Tantra menyikapi peristiwa penyerangan jemaat Gereja Katolik Santa Lidwina Kabupaten Sleman, Yogyakarta belum lama ini. Tantra mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk secara serius mengkaji dan mencegah gangguan keamanan yang berpotensi muncul di kemudian hari, sehingga peristiwa serupa tidak terjadi kembali.

Secara beruntun bangsa kita kembali mengalami tekanan dan ancaman nyata berbentuk kekerasan dan penganiayaan yang menerpa secara fisik kelompok ulama dan jemaah berbagai agama. Dimulai dari tindakan aniaya terhadap KH Umar Basri (Ceng Emon) Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka Cirebon ketika menunaikan ibadah salat Subuh pada 27 Januari 2018, terjadinya pelarangan dengan pengerahan massa kelompok tertentu atas acara Bakti Sosial Gereja Santo Paulus Bantul, Yogyakarta pada 28 Januari 2018 dengan alasan-alasan absurd yang kemudian aksi teror di gereja Santa Lidwina-Sleman.

Pelarangan kehadiran Biksu Mulyanto warga legok Kabupaten Tangerang yang dikhawatirkan melakukan Budhanisasi dan terakhir kekerasan aniaya jemaat dan pastor gereja Katolik Santa Lidwina Sleman Yogyakarta pada 11 Februari 2018. Pemerintah sebagaimana dikatakan Menko Polhukam Wiranto sedang memeriksa motif dari aksi tersebut.Peristiwa yang terjadi itu nyata nyata sangat menciderai nilai tolenransi yang ada. Peristiwa ini menjadi preseden buruk terhadap toleransi dan wacana pluralisme di Indonesia. Karena itu baik aksi teror atau maraknya faham radikalisasi harus diberantas. Masyarakat kini menunggu hasil pemeriksan ini apakah ada keterkaitan dengan jaringan paham radikalisasi dan aksi terorisme.

Penelitian Setara Institute menempatkan Yogyakarta sebagai daerah yang tidak toleran pada tahun 2017. Yogyakarta bersanding dengan sembilan daerah lain yang berpredikat sama, antara lain DKI Jakarta, Banda Aceh, Bogor, Depok, Cilegon, Banjarmasin, Makasar, Padang, dan Mataram. Kemudian The Wahid Institute menemukan, tindakan intoleransi di Yogyakarta mulai masif terjadi sejak tahun 2012. Bahkan, pada tahun 2014, Yogyakarta dinobatkan sebagai daerah intoleran ke dua setelah Jawa Barat.

Di era reformasi memungkinkan orang melakukan mobilisasi massa secara terbuka di ruang publik. Aspek emosi keagamaan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat plural. Benturan-benturan sosial karena sentimen keagamaan kerap terjadi di Indonesia.

Sementara itu gerakan radikalisme yang terjadi merupakan sebuah gerakan sosial politik yang dilakukan oleh individu atau pun sekelompok orang yang merasa dirugikan secara sosial dan historis. Radikalisme, meskipun dengan mengibarkan panji-panji keagamaan, tidak lebih hanya sebagai fenomena politik. Sikap seperti sudah mulai berkembang di negeri ini yang harus di waspadai oleh Pemerintah dan masyarakat. Hancur berberapa negara seperti kejadian di Aleppo, Suriah dan lainnya akibat meluasnya sikap radikalisasi.

Dan sikap Intoleransi adalah titik awal dari terorisme dan terorisme adalah puncak dari intoleransi. Pemerintah perlu membuktikan asumsi yang berkembang tersebut mendeteksi relasi dan transformasi organisasi agama yang radikal menuju terorisme dengan mengukur persepsi publik; dan memetakan praktik deradikalisasi dan arah deradikalisasi yang harus dari Radikalisme Menuju Terorisme.Kita harus mewasdai dan menangkalnya,jangan sampai ini terus berkembang dan mengancam kehidupan beragama dan menghancurkan Indonesia dan keutuhan NKRI.*

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>