TOP SOROT: Stabilitas Pasca Bom
By admin On 28 May, 2018 At 06:43 AM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

koran-terbittopBelakangan ini rakyat Indonesia dibuat was-was dengan keberadaan para teroris yang masih berkeliaran dengan aksinya yang menelan banyak korban jiwa. Selain mengundang perhatian, peristiwa ini juga menimbulkan simpati bagi para korban-korbannya. Yang sangat memprihatinkan kita adalah aksi bom yng terjadi tiga gereja di Surabaya dan Rusunawa Sidoarjo serta penyerangan di Polda Riau, ada yang melibatkan anak anak. Tentu saja aksi bom ini lagsung mendunia, walaupun di di Irak atau Suriah, aksi bom dengan melibatkan anak itu sudah pernah dilakukan.

Aksi terorisme masih menjadi momok yang mengancam kedamaian di Indonesia. Tahun lalu saja Kepolisian RI menangani 170 kasus terorisme, naik drastis dari tahun sebelumnya yang ‘hanya’ 82 kasus.

Peningkatan ini kata Kapolri disebabkan oleh dinamika politik di Suriah dan Irak yang tidak stabil akibat serangan ISIS [Negara Islam Irak dan Suriah sehingga mempengaruhi peningkat. Pasca terjadi aksi teror bom ini kita harus menjaga stabibilitas nasional karena di tahun ini dan mendatang masih banyak event nasional dan internasional yng akan berlangsung di negeri

Kegiatan tahun politik serta sejumlah event internasional akan diadakan seperti kegiatan Asean Games di Palembang. Kita mendengar bahwa Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) menyatakan tidak mau main-main dalam melaksanakan turnamen multi event empat tahunan itu. Demi menjaga keamanan bagi atlet dan pelaksanaan turnamen, INASGOC terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Bahkan BNPT telah berangkat ke Korea Selatan, untuk melakukan studi terkait keamanan dalam turnamen multievent. Kemudian kita akan melakukan sejumlah pemilihan Kepala Daerah secara langsung tentu dibutuhkan keamanan dan stabilitas yang terjaga.

Berdasarkan catatan sepanjang tahun 2013 dan 2014 hingga 2017 kepolisian berhasil mengacak acak kantong dan membuat berantakan kelompok radikalsime serta terorisme. Sehingga para terorime itu mulai melakukan konsolidasi dan merekrut anggota. Aksi ini memberi sinyal bahwa mereka masih ada dan akan terus melakukan aksinya.Untuk itulah tak salah jika ledakan di tiga gereja surabaya sebagai kebangkitan kembali kaum radikalisme.

Terorisme adalah musuh bersama yang harus diberantas.Selama ini gerak cepat Densus 88 telah banyak menunjukkan hasilnya, meskipun kita prihatin tindakan cepat Polri menangani aksi teror di Indonesia, sebaliknya membuat sejumlah anggota Kepolisian menjadi korban.

Langkah pemerintah mengambil tindakan melawan sekelompok kecil teroris haruslah didukung oleh seluruh lapisan masyakat sehingga aksi tersebut cepat diketahui dan diberantas. Walaupun sejumlah aksi teror berhasil diungkap dan para pelakunya telah berhasil ditangkap dan diadili, tetapi aksi teror tampaknya masih terus berlanjut dan belum dapat diberantas sampai ke akar-akarnya.

Pemerintah harus menyelesaikan RU Terorime, dan membangun sinergitas dalam pemberantasan aksi radikalisasi dan terorisme. Kerana mereka saat ini bukannya tiarap dan enyah dari negara kita, tetapi justru sedang melakukan konsolidasi, melakukan perekrutan anggota, menyusun rencana dan kekuatan. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu.Aksi teror sepertinya tak akan habis, kendati banyak pelaku teror yang ditangkap maupun yang tewas tertembak oleh peluru aparat.

Bukan kuantitas pelaku yang semakin bertambah, tapi modus yang digunakan pun beraneka ragam. Seolah para teroris tak kehilangan akal dalam mempelajari berbagai cara. Mulai dari bom bunuh diri, pengiriman paket, sampai penyerangan langsung terhadap sasaran, termasuk aparat keamanan.(Penulis : Mantan Pengurus PWI Pusat, Dewan Pengawas DPP TANTRA dan Pelindung FORWAKA)

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>