TOP SOROT: Sepenggal Kisah Mudik
By admin On 19 Jun, 2018 At 01:08 AM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

psx_20180610_200623Mengutip penulis dan budayawan Umar Kayam mengatakan secara anatomi ritus mudik merupakan ritus yang tidak jelas apakah fenomena agama,sosial atau fenomena budaya, namun uniknya meski semua itu berubah di negeri ini anatomi tradisi mudik tak lekang oleh waktu (Tempo 30 Juni 2015). Saya pun ingin mengungkapkan perasaan diri sendiri setelah mudik menyapa kampung halaman. Mengapa demikian ? Karena menyapa kampung halaman sebagai tradisi mudik menyiratkan sebuah fenonema metafisik sebagaimana terkandung dalam ungkapan Cina “Setinggi tinggi bangau terbang akan kembali ke sarangnya”,

“Seberapa jauh orang merantau pada akhirnya juga akan pulang ke kampung”. Sehingga tidak lagi sekedar menjadi ritual menuju kemenangan bersama yang sederhana dan bersahaja.

Mudik juga adalah bernostalgia dengan masa lalu, dengan keterikatan emosional, dengan kesederhanaan dan romantisme suasana alam pedesaan. Sehingga kisahnya bisa menjadi kohesi sosial yang amat kuat bagi sebagian besar masyarakat (perkotaan) di Indonesia. Sekalipun berbekal ala kadarnya, tak menjadi kendala untuk meretas tali kekerabatan. Alhamdulilah diberbagai media saya membaca mudik 2018, jumlah angka kecelakaan jauh mmenurun hingga 17 persen atau sebanyak 1.154 kasus pada priode yang sama dibanding dengan tahun 2017.

Jumlah korban meninggal dunia pada Operasi Ketupat 2018 hingga hari H sebanyak 242 orang atau turun 44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 yakni 616 orang. Seperti diungkap Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto kecelakaan yang terjadi banyak didominasi oleh sepeda motor sehingga diwajibkan pengendara sepeda motor untuk beristirahat di pos-pos cek poin.(dilansir kompas com). Karena aspek keselamatan dalam sistem manajemen transportasi ini menjadi prasyarat pertama dan tolak ukur keberhasilan pengamanan lalu lintas selama mudik berjalan.

Menurut hemat saya Pemerintah tidak bisa mengklaim berhasil mengelola arus mudik jika parameternya hanya mampu memindahkan 17,8 juta pemudik. Akan lebih fair jika ukuran parameter keberhasilan adalah minimnya kecelakaan yang merenggut nyawa, termasuk pengguna sepeda motor. Karena itu mudik lebaran jangan sampai identik dengan delusi serta selebrasi hedonisme atau ajang pameran materialistik. Dari data yang ada jumlah korban meninggal dunia pada Operasi Ketupat 2018 hingga hari H sebanyak 242 orang menurut Irjen Pol Setyo Wasisto atau turun 44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 yakni 616 orang. Ini menunjukkan mudik 2018 sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Kemudian volume kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui GT Cikarang Utama sejak H-7 hingga H-3 Lebaran sebanyak 488.710 kendaraan (dilansir kompascom). Setidaknya, hanya 96.899 kendaraan yang melintas pada H-4 atau 11 Juni 2018. Itu artinya terjadi penurunan 16,6 persen bila dibandingkan
tahun sebelumnya.Belum lagi meningkatnya jumlah pengguna sepeda motor sangat sudah diantisipasi sehinga tak banyak menimbulkan problem diperjalanan.

Fenonema mudik selalu menarik diceritakan karena ada nilai silaturahmi, cinta kampung halaman, hormat orang tua dan distribusi ekonomi, dari kota ke desa. Kondisi jalan yang belum sepenuhnya siap menerima memludaknya pemudik namun kini lebih baik. Pulang kampung mempunyai korelasi waktu yang bersamaan dengan puasa ramadhan dan Idul Fitri yang notabene ritual Islam, namun kenyataannya mudik juga melibatkan masyarakat non-muslim. Karena momen dijadikan jembatan untuk kangen-kangenan dengan sanak saudara di desa.

Dari catatan penulis mudik menjadi wujud kesadaran kolektif bahwa setiap pribadi pemudik adalah makhluk sosial yang terbalut oleh sebuah kultur romantisme komunal. Dengan cara itu mudik sebagai perjalanan lahir dan batin dimana energinya bernama rindu. Dialah yang menggerakkan jutaan

penduduk Indonesia dalam waktu hampir bersamaan, pergi dan pulang. Itulah yang membuat idealitas spiritualisasi mudik fisik sebagai hasil religiusitas watak sosial yang menjadi wadah menyegarkan degradasi nilai-nilai, etika dan moral kita sebagai bangsa yang majemuk ini. Puluhan,ratusan, bahkan ribuan kilometer harus ditempuh.(Penulis : Mantan Pengurus PWI Pusat-Penasehat Forwaka dan Dewan Pengawas DPP TANTRA Indonesia).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>