BUMDes Karya Makmur Menjamin Kehidupan Petani Sawit Kecil
By admin On 15 Aug, 2018 At 04:26 AM | Categorized As INSPIRASI POSDAYA | With 0 Comments

prof-haryono-di-seminar-internasional-pemberdyaaanProses pengolahan sawit biasanya dilakukan pada pusat pengolahan yang mengumpulkan sawit dari kebun yang sangat luas. Kalau kebun itu milik pengusaha sawit yang besar, maka sistem pengumpulannya menjadi efisien karena proses penanamannya diatur begitu rupa sehingga mudah mengumpulkannya untuk dibawa ke tempat tertentu dan diangkut ke pabrik pengolahan.

Tetapi apabila kebun sawit itu milik rakyat kecil dengan tingkat penanaman dan produksi yang juga sedikit dan menanamnya tidak seragam menurut aturan kebun besar, maka apabila panen, ada kalanya sukar sekali para petani yang jauh letaknya dari pabrik pengolah untuk membawa produknya yang terbatas ke pabrik pengolah. Biaya untuk membawa produk yang tidak memadai menjadi ongkos yang relatif besar dibanding keuntungan yang bisa diperoleh. Akibatnya produk sawit itu tidak diolah atau mangkrak alias tidak mendatangkan untung bagi pemilik kebun yang sempit.

Sejak beberapa waktu lalu para petani kecil Desa Pangkalan Tiga, Kotawaringin Barat, bersatu dan membentuk kerja sama guna secara gotong royong saling menolong membawa produk terbatas itu ke pabrik pengolahan. Sejak dicanangkannya kegiatan membentuk BUMDesdi KabupatenKotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menurut laporan Ivanovick Saputra kepada Ketua Tim Pakar Haryono Suyono, jumlah petani kecil yang bergabung dalam usaha bersama
itu bertambah banyak karena usaha itu dikembangkan menjadi Bumdes. Usaha Bumdesyang dibentuk desa desa itu mendapat suntukan modal dari dana desa yang dialirkan ke desa tersebut.

Sejak itu jumlah petani kecil yang mau kembali mengolah lahannya naik ;ebih dua kali lipat dan bergaung dalam Bumdesteresebut, sehingga petani sawit yang memiliki lahan sempit tidakperlu risau. Di masa lalu,karena kesulitan ekonomi pada awal transmigrasi, banyak petani yang menjual lahannya sehingga tersisa lahan yang relatif sangat sempit. Dengan lahan sawit yang luasnyakurangdariduahectare, rata-rata hanya bisa panen di bawah 2 kuintalsehingga sulitmenjualhasilpanen.Para petani kecil itu cenderung malas menanam dan memelihara kebun sawitnya karena merasa merugi tidak seimbang dengan biaya untuk mengolah hasil kebun yang sempit tersebut.

Para pengepul tidak terlalu berminat mengambil hasil sawit dari lahan sempit karena tidak sepadan dengan ongkos mengambil produk sawit yang jumlahnya terbatas tersebut. Pengepulbesarbiasanya mengutamakanmengambilhasilpanenbesar di atassetengah ton, karena dianggap tidak ekonomis melayani petani yang hasilnya kurang dari itu. Padahal jarak ke pusat penjualan biasanya jauh sehingga tidak menguntungkan kalau harus membawa produk ke tempat pengepul.

Melalui gerakan gotong royong di DesaPangkalanTiga, KecamatanPangkalan Lada, pada akhir tahun 2014, rakyat membentuk usaha KaryaMakmur yang memiliki unit bisnisjualbelitandanbuahsegar (TBS) kelapasawitdengansasaran menolong petani kecil. Modal awalusaha berasaldariswadayamasyarakat.

DenganinisiatifDirekturusaha bersama itu, karyawannya melakukan usahapengepulansawitdengan caramenjemput sawit dari rumah petani door to door untuk dijual kepabrik kelapa sawit. Dengan demikian, biarpun petani memilki lahan sempat dan panennya sedikit, pemilik merasa nyaman karena petani tidak dikenakan biaya tambahan asalkan berada dalam satu jalur perjalanan penjemput. Hasil produk dari lahan sempit itu akan diambil oleh badan usaha yang dibentuk bersama atar para petani tersebut.

Pada tahun 2015 dan 2016, pemerintahdesameresmikan usaha bersama itu menjadi BUMDes Karya Makmur dan melakukan penyertaaan modal dari Dana Desa (DD). Badan Usaha MilikDesa (BUMDes) Karya Makmur melanjutkan usaha pengepul dan meningkatkan peserta dari 50 petani menjadi 125 petani yang lebih dari 50 prosen adalah penjual petani penghasil kelapa sawit dengan lahan di bawah 2 hektare. Dengan demikian, Bumdes, sesuai tujuannya, menolong petani kecil memiliki kepastian pasar dan BUMDes membantu petani kecil menjemput bola mengambil produk di lahan-lahan yang sempit, bahkan kalau perlu Bumdes membantu petani kecil dengan pinjaman modal sebelum panen sehingga kehidupan petani kecil bisa menjadi lebih baik karena tidak tergantung pada pinjaman modal dengan bunga yang mencekik.

Dalam menentukan harga beli dari petani, BUMDes mengacu pada harga tertinggi yang ditetapkan pabrik-pabrik kelapa sawit dan mengambil nilai lebih sekitar Rp 200 per kilogram. Nilai lebih itu bukan dianggap sebagai untung, tetapi dijelaskan kepada para petani secara transparan sehingga ada pengertian yang baik bahwa nilai lebih yang dikumpulkan oleh BUMDes digunakan untuk biaya operasional menyewa truk, tenaga pengangkut dan sopir.

Sebagai kompensasi BUMDes menyediakan jasa konsultasi dan pinjaman uang tanpa bunga dengan pembayaran cicilan menyesuaikan kemampuan petani yang dicicil dari hasil produksi kebunnya sehingga biaya hidup petani dapat tertolong dari pinjaman yang tidak terpaksa diambil dari sumber lain yang biasanya memungut bunga yang sangat tinggi. Keperluan petani yang dapat dilayani oleh Bumdes dalam masa yang akan datang juga direncanakan disediakan oleh
Bumdes sesuai perkembangan Bumdes yang dikelola bersama tersebut.

Sejak usaha bersama itu diubah dan dikembangkan menjadi Bumdes masyarakat makin merasakan bahwa pada suatu ketika Bumdes akan memiliki unit-unit usaha yang bervariasi guna menolong kehidupan ekonomi rakyat kecil yang ada di desa misalnya dalam hal membantu anak-anak sekolah atau memberikan biaya yang diperlukan untuk keperluan lainnya. Bahkan dari usaha sawit itu bisa saja berkembang lebih luas menjadi Bumdes yang melayani kebutuhan masyarakat secara luas untuk keperluan kesejahteraan lainnya.

Sejak penyertaan modal dana desa itu, usaha yang semula dimulai oleh masyarakat luas itu berubah menjadi BUMDesyang juah lebih mampumemberikan sumbangan kepada masyarakat luas, dimana anggota masyarakat yang ikut tertolong menjadi lebih banyak dibanding masa sebelumnya. Lebih dari itu Bumdes mampu memberikan berkontribusi terhadap pendapatan aslidesa (PAD) sebanyakRp 20 juta pada tahun 2016. Model bisnis dan inovasi yang dijalankan BUMDes Karya Makmur bisa diterapkan di daerah perkebunan sawit lain atau usaha kecil lain yang memiliki persoalan serupa. Semoga.(Diolah dari Laporan Ivanovick Agusta oleh Haryono Suyono, Ketua Tim Pakar MenDes PDTT).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>