TOP SOROT : ‘Kubangan’
By admin On 3 Sep, 2018 At 02:21 PM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

koran-terbittopKita masih ingat akhir 2015, KPK menangkap tangan anggota DPR, Dewie Yasin Limpo, yang menerima uang “ijon” 7 persen dari proyek pembangkit listrik mikrohidro di Papua. Pada awal 2016, KPK menangkap Damayanti Wisnu Putranti, anggota DPR, yang menerima uang “ijon” proyek dari kontraktor 6 persen dari nilai proyek infrastruktur jalan di Maluku. Kasus semacam ini bukan hal baru lagi. Hasil Survei Persepsi Korupsi 2015 yang diselenggarakan Transparansi Internasional Indonesia menunjukkan, satu dari lima responden menyampaikan bahwa mereka pernah gagal memenangi manfaat bisnis karena pesaing membayar suap.

Kemudian berita ditetapkan Mensos Idrus Markam sebagai tersangka sempat mengejutkan karena sebelum diumumkan dia sudah menyatakan mundur. Mundur pejabat elit pemerinth atau politik di negeri jarang terjadi dengan alasan yang sepele,jika pun bisa biasanya pantang mundur. Berita mental pejabat di negeri ini terlinat suap atau menerima ijon bukan lagi mengejutkan. Saya pun secara rutin mencatat jumlah pejabat atau elit politik mulai dari angoota DPRD Kota,Kabupaten bahkan Walikota,Bupati dan Gubernur hingga DPR-RI ditangkap KPK, sudah menjadi berita yang biasa.

Korupsi di elit politik seperti ‘kubangan lumpur’ sebuah masalah yang sangat mengkhawatirkan serta menjadi penyakit politik yang selalu menghantui sikap dan moralitas para penyelenggara negara dan elit politik negeri ini. Tingginya tingkat korupsi yang terjadi selama ini membuat korupsi seakan menjelma menjadi sebuah budaya yang terus dipelihara dalam kehidupan bangsa ini.

Kita tahu dua elit partai Golkar sesudah mantan ketua kini mantan sekjennya terlibat dalam perbuatan korupsi. Itulah kuropsi seperti kubangan ‘kerbau’ yang tak pernah airnya bersih. Korupsi benar benar telah merajalela di dunia politik dan sekarang pun telah menyebar ke bidang-bidang lainnya karena korupsi bisa dilakukan dalam setiap bidang kehidupan. Misalnya dalam bidang ekonomi, bisa dilihat sebanyak apa masyarakat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, dan tidak ada tindakan dari pemerintah untuk membantu mereka. Sudah sangat sulit untuk menghapus bayang-bayang korupsi di Indonesia, karena sudah terkenal dimana-mana ??

Saya kira faktor lain yang mempengaruhi tingkat korupsi pejabat dan elit politik meningkat karena mahalnya biaya atau modal politik. Mulai dari Pra-pilkada (verifikasi pencalonan di partai politik guna mendapatkan dukungan, logistik kampanye dan team pemenangan) hingga puncak pelaksanaan pilkada, tidak sedikit biaya atau modal yang dikeluarkan pejabat atau elit politik lokal guna mencapai sebuah kemenangan dalam pilkada.

Bobroknya pemerintahan sangat dipengaruhi oleh tindak-tindak korupsi yang sangat meluas. Rendahnya moral daripada elit-elit politik ini merupakan persoalan yang paling difokuskan.Sehingga untuk memuluskan langkah politik salah satu jalan pintas yang dilakukan pun yakni tindakan penyuapan dan korupsi. Kalau wajah elit politi kita tidak berubah ibarat kubangan kerbau yang selalu kotor tadi, maka fenomena ini tidak akan berubah. Apalagi menginginkan adanya zona integritas bebas korusi, jauh panggang dari api ??.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>