TOP SOROT : ‘Perihal Sontoloyo’
By admin On 25 Oct, 2018 At 12:33 PM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

koran-terbittopMungkin Telinga kita pernah mendengar kata kata sontoloyo atau sontoloyo loyo ?. Perihal kata Sontoloyo ini tiba-tiba ramai dimuat di berbagai media cetak,televisi,onlene bahkan media sosial. Tak kalah menariknya dengan viral berita bohong Ratna Sarumpaet dalam beberapa minggu terakhir ini. Entah kenapa ? Saya masih menyimak arti ungkapan kata itu lebih dalam. Siang itu di sudut kantin halaman Gedung Kejaksaan Agung saya dan rekan membahas istilah politikus sontoloyo yang dimaksud Presiden Jokowi saat di Convention Exhibition, BSD, Tangerang, Banten, 24 Oktober 2018.

“Itu mungkin Presiden kita sedang kesal bisa saja karena kini banyak ‘politikus sontoloyo’ jelang pilpres 2019 komentarnya terkait penyaluran dana desa,” kata rekan ini. Sayapun sempat terdiam dan rekan kemudian menyebutkan di dalam tahun politik banyak sekali ungkapan politikus untuk menjatuhkan lawannya.Sekarang tak usah kita bahas Presiden, tapi kita bahas soal kata sontoloyo karena menarik memang digunakan untuk seorang politikus,pemimpin Bupati atau gubernur dsbnya.

Kalau politikus ataupun pemimpin kita sontoloyo itu suatu alamat bahwa tidak akan ada kemajuan jika dipimpin oleh mereka. Definisi arti kata ‘Sontoloyo’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian).Padahal dalam bahasa Jawa,
Sontoloyo adalah sebuah nama julukan atau profesi bagi seseorang atau lebih yang menggembala bebek.

Saya kira pernyataan politikus sontoloyo tidak datang begitu saja. Ini lantaran situasi politik menjelang pesta demokrasi tahun depan. Kini banyak pernyataan politikus kita berhubungan antara lain, akhiri politik kebohongan, jangan hanya turun kalau mau pemilu atau pilpres, politik yang  mengedukasi, akhiri politik SARA, kampanyekan hal-hal positif dan juga politik asal ngomong yang berdampak negatif dan politik menghalalkan segala cara. Padahal rakyat sekarang ini menginginkan kontestasi politik lebih mengedepankan adu gagasan dan ide. Dengan demikian, pesta demokrasi ini akan menghasilkan pemimpin yang amanah dan terbaik.

Masyarakat sudah tahu politikus sontoloyo itu !. Yang enggak baik sering menyerang lawan politik dengan cara tak beradab, tidak ada tata kramanya.Itulah dunia politik untuk segala tujuan mempengaruhi simpatasannya. Dengan Politik kebohongan ?? Jangan sampai demokrasi Pancasila terus-menerus dirongrong, dibelokkan, dibajak, dan di-sontoloyo-kan. Setiap warga negara apalagi politikus perlu memiliki Askabiyah (menguatkan hubungan ) untuk menumbuhkan kesatuan dalam negara. Untuk itu perlu dikembangkan teori politik askabiyah dan rasa keagamaan oleh pemimpin negara.

Jika meminjam pendapat filsuf terkenal socrates dalam peran negara membentuk masyarakat, maka sebenarnya sederhana. Yakni bagaimana politikus itu yang mewarnai ketatanegaraan bisa memajukan dan kebahagian bagi para warga negara nya dan membuat jiwa penduduk menjadi manusia baik. Jangan sampai terbalik seperti pengembala bebek yang biasanya memunguti telur bebek yang ditelurkan para bebek dalam semalam lalu dikumpulkan kemudian diserahkan ke juragan bebek yang kemudian sontoloyo akan mendapatkan bagian dari bagi hasil dengan juragan bebek selain upah ??.

Jika ada yang mengatakan para politikus kita loyo dan bahkan sontoloyo, jangan pula memusuhinya. Mungkin ada benarnya walau kritikannya terlalu pedas dan bahasanya begitu memanaskan kuping. Tugas Politikus adalah membahagiakan rakyat meski tidak atau belum banyak berbuat untuk rakyat.

Saya kira bukan zamannya lagi menggunakan kampanye misalnya politik adu domba mengorbankan kewarasan,sekarang zamannya politik adu program, ide, dan gagasan.Ya mak itulah.!! (haris fadillah-Mantan Pengurus PWI Pusat-Pembina Forwaka Kejagung).

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>