TOP SOROT: ‘Wahai Hakim’
By admin On 4 Dec, 2018 At 02:43 PM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

koran-terbittopSEKALI LAGI kita dikejutkan dengan OTT KPK terhadap hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Berita ini membuat saya tersentak karena hakim adalah profesi agung dan mulia. Di sudut room Hotel Inna Bali Beach, pekan lalu saya dan rekan menyaksikan siaran televisi penangkapan dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang digelandang KPK. OTT di peradilan ini bukan lah hal baru. KPK pernah melakukan penangkapan terhadap panitera di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 21 Agustus 2017. Saat itu tim penindakan KPK mengamankan Panitera Pengganti PN Jakarta Selatan Tarmizi dan seorang kuasa hukum bernama Akhmad Zaini kala itu. Muram dunia peradilan semakin dipertontonkan oleh oknum hakim.

Anekdot negatif bahwa H A K I M (Hubungi Aku Kalau Ingin Menang) harusnya dilawan dengan kinerja yang positif, seperti jujur, bersih, dan berwibawa ternyata tidak berlaku.Fakta adanya OTT ini membuat kepercayaan kita terhadap lembaga terhormat ini menjadi pudar. Awan gelap bahkan kelabu peradilan kita sudah lama disorot masyarakat,banyak hakim tersangung suap menunjukan bahwa mereka belum sepenuhnya mengagungkan profesinya.Data dilansir Komisi Yudisial (KY) mencatat sejak 2005 hingga Agustus 2018, operasi tangkap tangan (OTT) KPK telah mengamankan 19 hakim yang tersandung kasus suap dan korupsi.

Pentingnya kebenaran dan kejujuran hakim agar masyarakat mempercayai peradilan kini seperti isi daging yang disobek.Miris kita melihat kelakuan hakim yang sering disebut sebagai ‘wakil tuhan’ itu masih berkelakuan yang kamaruk.Apalagi gaji dan kesejahteran hakim kini sudah lumayan besar seingga sangat tidak patut masih berbuat tidak terpuji menerima suap.

KPK menggelandang dua hakim Iswahyu dan Irwan ditetapkan tersandung menerima uang suap. Keduanya disebut KPK mulanya menerima Rp 150 juta terkait putusan sela atas gugatan perdata pembatalan perjanjian akuisisi PT Citra Lampia Mandiri oleh PT Asia Pacific Mining Resources. Keduanya juga dijanjikan menerima duit Rp 500 juta dari pihak penggugat lewat pengacara Arif untuk putusan gugatan. Duit Rp 500 juta kata KPK disiapkan pengacara dan panitera pengganti PN Jaktim yang pernah bertugas di PN Jaksel. KPK kemudian melakukan operasi tangkap tangan dan menyita duit yang sudah ditukar dalam mata uang SGD sebesar SGD 47 ribu. Kini mereka sudah dilakukan proses hukum dan ditahan.

Wahai hakim, engkau berprofesi mulia di dunia ini ? Hakim itu wakil Tuhan di muka bumi, bukan wakil iblis. Perilaku koruptif dengan menggunakan kekuasaan dan kewenangannya merupakan cerminan oknum hakim sebagai wakil iblis ?. Kita semua tahu, Hakim atau Qadliy adalah adalah profesi agung dan mulia. Sebab, tegaknya keadilan, ketertiban, rasa aman, dan supremasi hukum di sebuah negara, salah satunya bergantung di tangan mereka.

Ketika hakim berjalan tegap di atas kebenaran, berlaku adil, dan tidak takut kepada siapapun niscaya kebenaran dan keadilan akan berkuasa sepenuhnya di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, tatkala hakim berlaku bengkok, dhalim, dan tidak lagi takut,niscaya ketidakteraturan, kedzaliman dan ketakutan merajalela di sebuah negara. Kerja keras harus dilakukan oleh Mahkamah Agung untuk terus memperbaiki integritas hakim.

Stigma negatif atas dunia peradilan semakin mengakar bila reformasi peradilan tidak dilakukan secara konsisten, berkelanjutan, dan sinergis. Petinggi-petinggi hakim di Mahkamah Agung harus memfokuskan pengawasan terhadap hakim di peradilan tingkat pertama ini jangan terlalu sibuk dengan urusan lain sehingga tidak serius mengurus masalah internal, khususnya pembinaan hakim. Kasus ini menunjukkan masih lemah dan cideranya mentalitas oknum hakim dan panitera tersebut. Hal ini menjadi pertanda bahwa pembinaan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung bukan saja lemah malah merosot.!!

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>