TOP SOROT : ‘Praktik Culas’
By admin On 3 Jan, 2019 At 02:12 PM | Categorized As TOP SOROT | With 0 Comments

psx_20181212_093439Terus terang saya agak lelah menulis berita tentang korupsi karena tiada hari media absen memberitakan korupsi. Berita korupsi sudah menjadi menu utama pembaca di negeri ini, kata rekanku wartawan sambil tertawa ngopi di sudut kantin Badiklat Kejaksaan pekan lalu. Kemudian dia berujar,coba abang ketik kata korupsi di jendela mesin pencari Google, maka akan muncullah puluhan berita korupsi.

Dalam hitungan detik bisa dibaca banyak kasus kongkalikong antara pejabat dan swasta hingga politisi, bahkan korupsi dana bencana pun di korup. Tak pula menarik berita ‘bisnis haram dibalik musibah’ yakni berita ironi ‘pungli’ jenazah Tsunami Banten. “Negeri ini bukan saja penuh bencana, tetapi sudah penuh dengan korupsi berjemaah”.

Jika kita sepakat kalau korupsi kini tidak menunjukkan pengurangan berarti dan tidak memberikan kemanfaatan sosial, sehinga kita sepakati korupsi sudah menjadi budaya.Sehingga korupsi dalam lingkaran hitam yang abusit seperti bak kubangan kerbau,semakin diputar semakin hitam.

Tidaklah lagi tepat disebut kejahatan luar biasa tetapi kejahatan biasa (ordinary crimes) sekarang ini.Rekanku tertuntuk dan hanya mengelus elusnya dadanya sambil menyebut kata penyanyi Iwan Fals, ‘hukum mati pelakunya itu’.

Tetapi menurut saya dalam kasus korupsi bencana misalnya, rasanya hukuman mati pun belum setimpal atas kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Apalagi hanya terancam, yang bisa jadi vonis yang dijatuhkan jauh lebih rendah dari tuntutan??.

Beragam praktik culas dipertontonkan oleh oknum pelaku korup untuk menguntungkan diri sendiri menjadi permainan mengeruk keuntungan pribadi. Perbuatan itu seperti tikus yang bisa hidup di segala tempat dan cuaca.Koruptor pun bisa beroperasi di semua medan !.

Ketika Proyek Air Minum bagi korban bencana malah dikorup,hati kita makin terenyuh membacanya.Kita bertanya dimana hati nurani pelaku itu ? Bukankah mereka sudah disumpah sebelum memangku jabatan ?? Lihatlah disana anak-anak mengambil air bersih di pengungsian sementara di Palu dengan susah payah ! Proyek untuk hajat hidup orang banyak malah mereka tukar dengan dollar.

Seperti kalimat diatas itu bak tikus tikus yang biasa hidup di segala tempat mereka menunjukkan kamaruk demi mengenyangkan isi perutnya.

KPK menemukan indikasi suap proyek air minum di daerah yang baru saja terkena bencana, yakni Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Indikasi ini muncul setelah penyidik KPK memeriksa tersangka Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat. Ada pemberian suap dalam proyek pengadaan pipa HDPE di Bekasi,Donggala dan Palu. Kejadian ini bukan saja menunjukkan masih rendahnya preferensi antikorupsi, tetapi juga masih minimnya kesiapsiagaan menanggulangi bencana.

Bagaimana mungkin pendidikan antikorupsi diajarkan di sekolah jika praktik korup dipertontonkan terus menerus di depan anak didik ?? Lalu bagaimana mungkin pula kesadaran bencana ditanamkan kepada masyarakat jika aparatur yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana menunjukan sikap yang menghambat pertolongan bahkan menyelewengkan dana bantuan bagi korban bencana ??

“Tampaknya pengawas yang agung untuk urusan dosa korupsi di Indonesia hanya Allah SWT dan para malaikatnya”. Akar masalah korupsi di Indonesia sering dipertentangkan antara kepastian dan keadilan, tetapi tidak tersentuh masalah kemanfaatan dari penegakan hukum terhadap korupsi.Biaya penanganan korupsi lebih tinggi dari pengembalian hasil korupsi.Perbuatan korupsi bisa saja sebagai ulah oknum, namun jika kita kaji secara sistematik, karena adanya celah memungkinkan niat kejahatan dilakukan. Sadarlah wahai abdi rakyat?.

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>